Masjid Agung Jawa Tengah, Pagoda Avalokitesvara, dan bermalam minggu di Waroeng Semawis - Hari kedua kami di Semarang,
termasuk pengalaman yang cukup membuat saya “uh?”, yang tak akan pernah saya lupakan. Sedikit kesal iya, sedikit
nggak ngerti iya, dan malunya banyak. Nanti bakalan saya ceritakan pada bagian
ini, jadi silakan baca sampai habis. Karena, pengalaman ini saya rasakan
sendiri dan hampir satu bulan tak ada orang yang tahu. Mungkin, jika kalian
orang pertama yang membaca postingan ini, adalah orang pertama yang tahu.
Bahkan, Siti partner mbolang ke
Semarang saja tidak tahu, kenapa saya seharian menjadi bete pakai banget.
Sebenarnya, cerita di blog ini
pun saya agak-agak malu, tetapi saya ingin pengalaman saya bisa menjadi
pelajaran untuk orang lain. Serius, saat itu saya benar-benar merasa hina dan
tak pantas untuk hidup *mulai lebai*.
Hari itu, kami tidak manja dengan
langsung naik taksi online, tetapi kami berjalan dari hotel ke arah jalan raya.
Di sana, saya mampir ke mini market membeli susu beruang, kemudian melanjutkan
perjalanan ke arah kanan menuju halte Trans Semarang yang berada di dekat pasar.
Jadi, hotel yang saya tinggali dekat dengan jalan raya, indomaret, pasar dan
halte Trans Semarang. Selain halte, di pasar tersebut juga banyak angkot.
