Wednesday, November 6, 2019

Rekomendasi Kuliner Enak di Malioboro



Jalan Malioboro Yogyakarta, nampaknya menjadi salah satu tempat yang sangat wajib dikunjungi ketika ke Jogja. Seakan-akan, kita belum ke Jogja kalau belum ke Jl. Malioboro. Bahkan, ada teman saya yang mampir ke Jogja sebentar dan mengunjungi Jl. Malioboro serta berfoto di papan jalan fenomenal – yang sangat jarang sepi – di sana.

Tentunya, postingan ini tidak membicarakan mengenai papan jalan tersebut, meskipun saya berhasil berfoto di sana ketika mengunjungi Malioboro pagi-pagi, hihi. Yang akan saya bahas yakni mengenai kuliner di Malioboro.

Tak hanya pakaian; batik, kemeja, gamis, dll, di Malioboro juga menyediakan banyak kuliner yang sangat sayang kalau dilewatkan. Tentu saja, kuliner-kuliner enak di Malioboro memiliki waktu tersendiri. Oleh sebab itu, posting-an ini akan saya bagi menjadi dua yakni; kuliner siang di Malioboro dan kuliner malam di Malioboro.
Wednesday, July 31, 2019

Gudeg Mbah Lindu, Gudeg Dekat Malioboro yang Pedas

Sebelumnya, saya mengatakan akan bercerita mengenai mencicipi gudeg Yu Djum di Jl. Wilijan. Akan tetapi, saya sudah pernah mengulasnya di sini – meskipun bukan yang di Jl. Wilijan. Dan, setelah kami makan gudeg, saya dan Arum berjalan kaki dari Jl. Wilijan ke Alun-Alun Kidul. Memangnya, nggak jauh? Lumayan, sekitar 10 sampai 15 menit berjalan kaki.

Menyenangkan sekali berjalan kaki di Jogja. Apalagi, ketika berjalan kaki dari Jl. Wilijan ke Alun-Alun Kidul. Apabila jalan kaki di Malioboro, kamu akan menemui gedung-gedung, hotel, penjual batik, dll. Berjalan dari Jl. Wilijan ke arah Alun-Alun Kidul, yang akan kamu temukan adalah bangunan-bangunan kuno; rumah-rumah tua. Trotoar pun cenderung sepi, hanya lalu lintas pada jalan saja yang cukup ramai.

Baiklah, dua paragraf di atas hanya sedikit bercerita mengenai akhir perjalanan kami pada hari itu. Esoknya, hari terakhir kami di Yogyakarta. Lagi-lagi, kami menghabiskan waktu di Jl. Malioboro. Nah, pada pagi itu, sekitar pukul setengah 10, kami memutuskan untuk mencicipi Gudeg Mbah Lindu, yang ternyata sangat dekat dengan Jl. Malioboro. 
Friday, July 19, 2019

Sop Ayam Pak Min Klaten, Buka di Mojokerto; Sebuah Rindu yang Terbayar!



Kali pertama saya mencicipi sop ayam Pak Min Klaten, ketika saya mengunjungi Jogja untuk kali kedua. Kala itu, teman saya Mas Ciko, membeli beberapa bungkus sop ayam Pak Min untuk makan siang kami berempat; saya, Mas Ciko, dan dua keponakannya – ah, saya jadi rindu mereka. Seperti saya merindukan teman-teman saya tersebut, saya juga merindukan cita rasa sop ayam berkuah pucat yang gurih tersebut. Beberapa tahun setelah itu, akhirnya saya kembali mencicipi sop tersebut.

Ceritanya, tepat dua hari lalu, saya berkunjung ke Sop Ayam Pak Min Klaten, yang baru saja buka di Mojokerto. Akhirnya, setelah sekian lama, Mojokerto menjadi salah satu kota yang dihinggapi sop ayam ini. Seperti biasa, saya ke sana bersama admin @kulineran.mjk . 
Monday, July 15, 2019

Cafe Estetik Mojokerto; Paradoks Resto n Cafe


Sebagai bloger Mojokerto yang hits, tentunya saya harus tahu kafe-kafe instagramable yang patut kamu kunjungi dan cicipi. Sebenarnya sih, saya teramat jarang datang ke kafe di Mojokerto secara pribadi. Kebanyakan saya datang ke kafe di Mojokerto bersama kawan, yang ada keperluan kerjasama dengan kafe tersebut. 

Pada kesempatan kali ini, saya datang ke sebuah kafe yang bangunannya itu simple, unik dan tentunya instagramable. Kafe tersebut bernama Paradoks. 

Paradoks Resto n Cafe berada di Jl. Raya Ijen No.27, Wates, Mojokerto. Kafe ini mengusung konsep resto n cafe, sehingga tak hanya menjual makanan ringan dan kopi saja. Paradoks Resto n Cafe pun menyediakan makanan berat, dengan berbagai macam menu pilihan. 

Wednesday, July 3, 2019

Mengunjungi Candi Ratu Boko, Yogyakarta; Lokasi Syuting AADC 2




Tahun 2016 lalu, linimasa dihebohkan dengan hadirnya Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2). Di mana-mana membicarakan kisah Rangga dan Cinta itu. Berbeda dengan kisah pertamanya, AADC 2 mengambil lokasi di Jogja, salah satunya lokasinya adalah di Candi Ratu Boko. Tak hanya melalui film ini, saya sering melihat teman-teman berfoto di Candi Ratu Boko, terutama ketika senja menyapa. Untuk itu, saya mengajak Arum ke Candi Ratu Boko menggunakan angkutan umum.

Sebelumnya, saya sudah menghitung jarak dari Tugu Yogyakarta ke Candi Ratu Boko menggunakan taksi online. Harganya cukup menguras kantong, yaitu sekitar 80ribu untuk sekali jalan. Untuk pulang pergi, silakan dikalikan sendiri. Belum lagi harus mengeluarkan uang untuk masuk ke Candi Ratu Boko, bisa-bisa membengkak biaya perjalanan kami. 

Untuk itu, alternatif lain agar menghemat biaya adalah dengan naik TransJogja, biaya per orang hanya Rp. 3500 saja. Itu artinya, kami hanya perlu mengeluarkan biaya Rp. 14.000,- untuk pulang pergi dari Malioboro sampai Terminal Prambanan.