Wednesday, August 2, 2017

Masjid Agung Jawa Tengah, Pagoda Avalokitesvara, dan bermalam minggu di Waroeng Semawis


Masjid Agung Jawa Tengah, Pagoda Avalokitesvara, dan bermalam minggu di Waroeng Semawis Hari kedua kami di Semarang, termasuk pengalaman yang cukup membuat saya “uh?”, yang tak akan pernah saya lupakan. Sedikit kesal iya, sedikit nggak ngerti iya, dan malunya banyak. Nanti bakalan saya ceritakan pada bagian ini, jadi silakan baca sampai habis. Karena, pengalaman ini saya rasakan sendiri dan hampir satu bulan tak ada orang yang tahu. Mungkin, jika kalian orang pertama yang membaca postingan ini, adalah orang pertama yang tahu. Bahkan, Siti partner mbolang ke Semarang saja tidak tahu, kenapa saya seharian menjadi bete pakai banget.

Sebenarnya, cerita di blog ini pun saya agak-agak malu, tetapi saya ingin pengalaman saya bisa menjadi pelajaran untuk orang lain. Serius, saat itu saya benar-benar merasa hina dan tak pantas untuk hidup *mulai lebai*.

Hari itu, kami tidak manja dengan langsung naik taksi online, tetapi kami berjalan dari hotel ke arah jalan raya. Di sana, saya mampir ke mini market membeli susu beruang, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah kanan menuju halte Trans Semarang yang berada di dekat pasar. Jadi, hotel yang saya tinggali dekat dengan jalan raya, indomaret, pasar dan halte Trans Semarang. Selain halte, di pasar tersebut juga banyak angkot.


Akhirnya, kami naik Trans Semarang untuk menuju Masjid Agung Jawa Tengah. Kami turun di Giant (kalau tidak salah ingat – Ya Allah, aku ke Semarang April lalu!). Dari Giant kami memesan taksi online untuk menuju ke Masjid Agung Jawa Tengah. Sesampainya di sana, kami turun di pintu depan. Di tepi jalan. Untuk menuju masjidnya, kami harus berjalan kaki lumayan jauh. Karena ini masjid benar-benar megah, Guys! Bagus banget pula.

Di sebelah kiri masjid bagian depan ada menara, yang nantinya saya akan naik ke sana. Ketika di dekat masjid saya melihat beberapa renovasi, tetapi tidak banyak. Tentu saja, saya berfoto di sana bersama Siti.

Seharusnya, kami datang ketika hari Jum’at, pas salat Jumat. Karena, setiap salat Jum’at payung-payung besar di halaman masjid akan dibuka. Pastinya akan lebih indah. Kemarin, kami tidak ke sini lantaran takut ramai – yaiyalah!

Ada batas suci dalam halaman masjid, sehingga untuk ke dalam masjid kami harus melepas alas kaki jauh dari bangunan masjid. Itu berarti, kami harus bertelanjang kaki di atas lantai yang panas. Syukur Alhamdulillah, saat itu matahari sedang terik-teriknya.

Dan ketika saya masuk ke masjidlah, kejadian itu terjadi. Ceritanya, saya mengenakan rok pendek di bawah lutut. Ketika masuk masjid, ada mbak-mbak penjaga masjid menghampiri saya. Dengan tatapan entah saya tidak bisa mengartikan bengong atau bagaimana, mengisyaratkan kalau masuk masjid harus memakai celana panjang atau rok panjang. Ya Allah, saya langsung minta maaf dan melipir. Pergi dari situ segera – sedih rasanya.

Tak usah diungkapkan lebih lanjut bagaimana perasaan saya ya, sampai sekarang ketika saya menulis ini, rasanya masih campur aduk. Sejak kejadian itu, saya jadi badmood seharian. Rasanya ingin segera hengkang dari masjid segera- xoxo. Sebenarnya, sebelumnya Siti sudah mengingatkan, kalau kita ke masjid mungkin saja harus pakai pakaian yang lebih sopan, tapi saya keukeh pakai rok pendek saat itu.

Sebenarnya, saya ingin segera pergi dari masjid, tetapi Siti mengajak saya naik ke menara. Karena memang sayang banget, sudah sampai di Semarang, akhirnya saya iyakan. Kami membeli tiket masuk seharga Rp. 7500. Lalu, kami bergantian naik lift, karena banyak pengunjung juga. Di atas anginnya kenceng, Sai. Rok saya berkibar, karena masih badmood saya pun semakin risih. Untunglah, kami tidak lama di sana dan segera pergi.


Sebelum kami pergi dari menara, kami mampir ke museum dulu. Saya lupa nama museumnya, tetapi memang masih berada di menara tersebut. Setelah itu, kami benar-benar keluar dari area masjid. Untunglah, Siti tidak mengajak saya salat dzuhur di situ- hehe.


Sebelum kami memesan taksi online, kami minum es campur yang mangkal di tepi jalan tepat sebelah pintu masjid. Karena memang Semarang sedang panas-panasnya.

Padang Rani, Kota Lama Semarang


Dari Masjid Agung kami ke Kota Lama lagi, karena kemarin belum puas lantaran Padang Rani belum buka. Kali ini, kami menjelajah Padang Rani yang menjual barang-barang vintage dan melakukan foto. Di Padang Rani, saya menemukan beberapa kamera tua, cangkir-cangkir model lama, kalung-kalung etnik, lampu-lampu cantik, dan beberapa benda menarik lainnya.

Siang itu begitu terik, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk melihat-lihat benda di Padang Rani, terutama saya yang memang pecinta vintage. Usai dari Kota Lama, kami melanjutkan perjalanan ke Watu Gong.

Pagoda Avalokitesvara atau Watu Gong

Perjalanan dari Kota Lama menuju Watu Gong cukup lama, kira-kira satu jam hingga sampai halte Trans Semarang yang dekat dengan Watu Gong. Saya benar-benar lupa daerah halte tersebut (maaf ya). Dari sana, kami memesan taksi online lagi. Sebenarnya, bisa saja naik angkot ke sana atau jalan kaki kalau mau – xoxo. Lokasi Watu Gong berada di tepi jalan raya, sehingga mudah dijangkau.

Kali ini, kami mendapatkan supir taksi online yang masih muda serta tampan – penting banget – tapi sayangnya, agak kurang sigap. Dia menyopir sampai melewati lokasi Watu Gong, sehingga harus berputar arah cukup jauh. Untung saja kamu ganteng, Mas.

Tak usah ditanyakan lagi, apa yang kami lakukan di Watu Gong. Tentu saja foto-foto – xoxo. Sayangnya, sesampainya di sana langit menjadi muram. Sehingga, hasil foto kami pun kurang menarik karena langit mendung. Tahu sendiri, saya suka foto outdoor dengan langit biru dan awan putih sebagai latarnya.

Tak lama setelah foto-foto, hujan pun turun. Deras banget, disertai angin pula. Kami pun berteduh di bawah saung dekat bangunan pagoda bersama beberapa remaja putri yang kebetulan ke sana. Ya, meskipun sudah berlindung, karena hujan dan angin kami pun masih kebasahan. Saya buru-buru melindungi Etro.

Setelah hujan usai, kami mengambil beberapa foto di dalam pagoda, setelah itu kami memutuskan untuk kembali ke Semarang Kota. Kami naik angkot untuk menuju halte Trans Semarang terdekat. Sesampainya di halte – di situ ada pasar – kami memutuskan untuk sholat sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan. Tentu saja, tidak langsung balik ke hotel meskipun hari sudah sore.

Kami memutuskan untuk wisata kuliner ke Waroeng Semawis atau pecinan Semarang.

Waroeng Semawis , Jawa Tengah

Kali pertama mendengar Waroeng Semawis, yang ada di otak saya adalah sebuah warung dengan nama Semawis. Ternyata, itu adalah nama sebuah jalan yang dijadikan pasar kuliner di Semarang. Mungkin, kalau saya bilang Pecinan, teman-teman akan lebih paham.

Waroeng Semawis sebenarnya adalah jalanan biasa, yang ketika weekend dijadikan pasar kuliner dengan konsep tenda-tenda. Jajanan di sini beragam. Kue leker, jajanan ala Korea, cumi bakar dan segala macam makanan. Tetapi, bagi umat muslim kudu hati-hati juga karena ada beberapa yang menjual makanan yang mengandung Babi. Tentu saja, pasar kuliner ini dipenuhi oleh orang-orang Tionghoa.


Saya dan Siti membeli makan malam berupa ayam yang dibumbui dengan rempah-rempah yang nikmat. Lalu, saya membeli jajanan khas Korea, Odeng. Rasanya enak banget, saya suka. Rasanya semacam ikan dengan kuah yang segar.

Usai dari Waroeng Semawis, kami pergi ke Klenteng Tae Kak Sie yang berada tepat di sebelah jalan Waroeng Semawis. Dari pintu belakang Waroeng Semawis ke arah kiri, melewati jembatan (sungai) kemudian belok kiri, lurus. Sebelah kanan sudah menemukan Klenteng Tae Kak Sie.
Sebelum kembali ke hotel, kami membeli kue leker lagi untuk dimakan di hotel.



2 comments:

  1. Duuhh..jadi ga enak Saya, apa yg dikhawatirkan bnr2 terjadi dan kamu diam saja. Huhuhuh

    Tau begitu, mungkin saya ga akan minta agak lama disana

    ReplyDelete
  2. Lagi lagi saya tergoda utk balik lg ke semarang.. Tergoda dg makanan dan melihat Masjid Agung jawa tengah yang keren bgt. Duh.. Nyesel dl pernah sebulan disana ga keliling😂

    ReplyDelete