Thursday, May 18, 2017

Dari Kota Lama, kami menuju Lawang Sewu dan Klenteng Sam Poo Kong


Dari Kota Lama, kami menuju Lawang Sewu dan Klenteng Sam Poo Kong Kaus yang saya kenakan adalah kaus yang sama yang saya kenakan ketika berangkat dari rumah menuju Surabaya, kemudian Semarang. Begitu pula dengan tas ransel – yang beratnya berkilo-kilo – masih saya panggul lewat kedua bahu saya. Tak ketinggalan tas cokelat rumbai-rumbai tersilang melewati dada. Usai dari tempat foto akar-akar, kami berbelok ke arah kiri dan menuju halte Trans Semarang. Kami bertanya kepada salah seorang perempuan yang akan naik bus juga, bagaimana cara menuju Lawang Sewu. Salah satu bangunan yang menjadi ikon kota Semarang. Pun bangunan yang terkenal akan hal-hal di luar nalar.

Halte Trans Semarang yang dekat dengan Kota Lama ini, berupa bangunan dari besi. Tidak terlihat kokoh dan memang ketika saya naik, bangunan tersebut bergoyang. Mungkin, tak banyak yang naik Trans Semarang dari sini, sehingga halte dibangun asal ada.

Bus yang harus kami tumpangi pun datang. Ini kali pertama saya naik BRT. Tinggi bus dan pintu sejajar dengan halte, sehingga kami cukup melangkah untuk masuk. BRT amat lenggang, hanya ada kami berlima – termasuk kernet bus dan sopir -. Kursi BRT ditata di tepi-tepi dengan bagian tengah untuk orang berdiri. Ada pegangan yang menggelantung di atas sana. Kami membayar tiket Rp. 3500-, untuk turun di Balai Kota Semarang. Kami harus turun di sana, untuk menuju Lawang Sewu.
Saya menarik napas lega, karena punggung saya terbebas dari tas ransel yang berisi pakaian serta keperluan saya selama empat hari di Semarang, meskipun hanya sejenak. Karena, tak lama kemudian kami sudah sampai di Balai Kota.


Dari halte Trans Semarang dekat Balai Kota, kami berjalan lewat trotoar. Kemudian, kami bertanya kepada satpam yang berada di dekat sana – saya lupa di depan gedung apa- di mana Lawang Sewu. Beliau berkata, jalan lurus saja, Lawang Sewu ada di pojokan. Kami pun berjalan, sembari menikmati keriuhan jalan raya kota Semarang. Saya sendiri live IG sebentar. Terus terang, jalan kaki di kota asing semacam ini, benar-benar favorit saya. Mungkin, orang lain akan mengira kami gembel atau semacamnya, tapi bagi saya ini adalah pengalaman berharga dan saya ingin mengulanginya.



Kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki, kami memutuskan berhenti. Duduk di kursi di trotoar, berfoto ria. Tak peduli beberapa pengendara bermotor memandang kami. Mau bagaimana lagi, kursi di trotoar ini benar-benar mengundang selera.

Kemudian, kami kembali berjalan. Baru beberapa langkah, kami melihat sebuah pintu gerbang terbuka. Kami terkejut, karena ternyata itu pintu gerbang belakang Lawang Sewu. Saya dan Siti tertawa, ternyata Lawang Sewu tinggal beberapa langkah dan kami justru keasikan berfoto dekat situ. Awalnya, kami pikir Lawang Sewu masih jauh, harus menyeberang. Ternyata, benar-benar berada di ujung trotoar jalan.

Lawang Sewu



Lawang Sewu (bahasa Indonesia: seribu pintu) adalah gedung gedung bersejarah di Indonesia yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Gedung ini, dahulu yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.




Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu karena bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak, meskipun kenyataannya, jumlah pintunya tidak mencapai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).

Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober - 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Maka dari itu Pemerintah Kota Semarang dengan Surat Keputusan Wali Kota Nomor. 650/50/1992, memasukan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di Kota Semarang yang patut dilindungi.

Saat ini bangunan tua tersebut telah mengalami tahap konservasi dan revitalisasi yang dilakukan oleh Unit Pelestarian benda dan bangunan bersejarah PT Kereta Api Persero (sumber: wikipedia)



Untuk masuk kawasan Lawang Sewu, kami dikenakan tarif Rp. 10.000-, per-orang. Sebelum kami berjalan jauh, kami ditawari untuk guide dengan membayar biaya guide sebesar Rp. 50.000-,. Menggunakan guide untuk jalan-jalan di Lawang Sewu, menurut saya cocok apabila kita datangnya ramai-ramai, tetapi kalau hanya berdua dan kami hanya ingin eksis saja, tidak perlu memakai guide.




Saya pun mengangkat Etro, mengarahkan lensanya ke berbagai arah di bangunan ini. Seperti nama bangunannya sendiri, Lawang Sewu, benar-benar memiliki banyak pintu dan jendela. Saya pikir, hanya ada satu lantai saja, tetapi bangunan ini memiliki dua lantai.

Di dalam bangunan Lawang Sewu terdapat replika-replika kereta api dan beberapa pakaian yang dimasukkan di dalam kaca. Memang, Lawang Sewu menjadi museum. Saya dan Siti mengambil beberapa foto, karena tempat ini sangat instagramable. Saya sampai kelelahan melepas tas ransel, jaket dan bergaya. Kemudian, membawa barang-barang tersebut lagi dan melepasnya lagi ketika mau berfoto. Begitu terus, sampai kami kelelahan.
Sebuah kiriman dibagikan oleh www.wulankenanga.com (@wulankenanga) pada



Sekitar pukul sebelas siang, kami memutuskan untuk ke Sam Poo Kong. Kali ini, kami tidak naik BRT atau berjalan kaki. Kami kelelahan dan akhirnya memutuskan memesan taksi online untuk menuju Sam Poo Kong.

Sam Poo Kong



Biaya taksi online dari Lawang Sewu ke Sam Poo Kong sebesar Rp. 11.000,-. Sebagai informasi, sebelum kami memutuskan naik taksi online atau tidak. Kami mengecek terlebih dahulu, berapa biaya yang harus kami keluarkan. Tetapi, biaya taksi online di Semarang jauh lebih murah daripada di Surabaya. Ini saya bandingkan ketika saya memakai taksi online di Surabaya ketika pulang dari Semarang.




Sesampainya di Sam Poo Kong, kami makan siang terlebih dahulu. Di depan Sam Poo Kong terdapat warung kaki lima menjual Mie Kopyok. Akhirnya, kami makan di situ. Mie Kopyok sendiri terdiri dari mie kuning, touge, tahu goreng yang dipotong-potong, kuah bening dan bumbu petis. Di atasnya terdapat taburan bawang goreng, daun hijau (lupa ini apa) dan sepotong jeruk nipis. Rasa Mie Kopyok mengingatkan saya akan Tahu Campur. Tidak jauh berbedalah. Hanya saja, Mie Kopyok lebih bening tanpa campuran daging.



Kelenteng Gedung Batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislamanan dengan ditemukannya tulisan berbunyi "marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an".



Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu, orang Indonesia keturunan cina menganggap bangunan itu adalah sebuah kelenteng - mengingat bentuknya memiliki arsitektur bangunan cina sehingga mirip sebuah kelenteng. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Padahal laksamana cheng ho adalah seorang muslim, tetapi oleh mereka di anggap dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Kong Hu Cu atau Tau menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan kepada mereka.[1]

Menurut cerita, Laksamana Zheng He sedang berlayar melewati laut jawa, namun saat melintasi laut jawa, banyak awak kapalnya yang jatuh sakit, kemudian ia memerintahkan untuk membuang sauh. Kemudian merapat ke pantai utara semarang untuk berlindung di sebuah Goa dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi kelenteng. Bangunan itu sekarang telah berada di tengah kota Semarang di akibatkan pantai utara jawa selalu mengalami proses pendangkalan yang di akibatkan adanya proses sedimentasi sehingga lambat-laun daratan akan semakin bertambah luas kearah utara.



Konon, setelah Zheng He meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk setempat. Mereka bersawah dan berladang di tempat itu. Zheng He memberikan pelajaran bercocok-tanam serta menyebarkan ajaran-ajaran Islam, di Klenteng ini juga terdapat Makam Seorang Juru Mudi dari Kapal Laksamana Cheng Ho. (sumber wikipedia)



Untuk masuk ke Sam Poo Kong, kalau hanya ingin melihat luarnya saja tidak masuk ke dalam bangunan utama – saya kurang tahu bangunan yang mana, karena banyak – Rp. 5000-, kalau untuk mengakses seluruh fasilitas Rp. 25.000. Kami memilih yang Rp. 5000,- dan memang di dalam kami hanya berfoto di luar saja. Dan sumpah, panas banget. Saya sampai takut pingsan. Karena kami kelelahan, kami bergiliran untuk berkeliling. Satu berkeliling, satunya lagi menjaga tas-tas di kursi.


Usai dhuzur, kami memutuskan untuk ke hotel. Saya benar-benar kelelahan membawa tas-tas ini dan wajah saya sudah memerah minta dimandikan. Yeah, hari itu kami mengakhiri perjalanan dengan makan malam di Simpang Lima setelah membersihkan diri di hotel.

No comments:

Post a Comment