Friday, December 2, 2016

Menduniakan Madura #1 : Menikmati Manisnya Pantai dan Hutan Kera Nepa di Desa Batioh



Menikmati Manisnya Pantai dan Hutan Kera Nepa di Desa Batioh, MaduraBenar-benar tidak menyangka bakalan dapat surat elektronik dari Mas Wahyu Alam, bahwa saya terpilih menjadi salah satu blogger yang akan #MenduniakanMadura. Memang, sebelumnya saya ikut mendaftar acara tersebut, tapi saya tidak menyangka bakalan terpilih nantinya. Tentu saja, saya sangat senang dan benar-benar terharu!

Seperti yang teman-teman ketahui, saya merupakan orang yang lemah dalam perjalanan, alias pemabok. Dan hal tersebut menganggu sekali, maka untuk mengatasi hal tersebut, satu minggu sebelum acara setiap pagi saya naik sepeda. Tentu saja, saya ingin tetap fit ketika acara dan tidak merepotkan orang lain. Dan Alhamdulillah, selama acara berlangsung selama 4 hari 3 malam, 22-25 November 2016 saya sehat walafiat! Tidak ada keluhan mabuk atau bagaimana-bagaimana.

Titik berkumpulnya acara ini berada di kantor BPWS yaitu Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura yang berlokasi di bibir jembatan Suramadu bagian Surabaya. Nah, karena saya dari Mojokerto yang berarti kantor BPWS berada di sebelah kanan jalan. Itu berarti saya harus melewati jalan di bawah jembatan Suramadu untuk sampai di kantor tersebut. Informasi ini, saya dapatkan dari Mbak Yuni. Selama perjalanan, saya sudah wanti-wanti “Lewat bawah jembatan”.


Perjalanan dari Mojokerto-Surabaya berjalan mulus. Ketika melanjutkan perjalanan ke BPWS agak-agak kurang mulus, karena beberapa kali nyasar. Maklum, sudah lama tidak motoran ke arah Kenjeran. Setelah berliku-liku, akhirnya saya menemukan arah ke jembatan Suramadu dan kantor BPWS pun di depan mata. Akhirnya, saya mengendarai motor ke arah jembatan Suramadu, bermaksud melewati bawah jembatan, eh, kok malah salah masuk jalan tol. Alhasil, saya menyeberang ke Madura sebelum waktunya. Mendahului teman-teman yang lainnya.

Maaf ya 😊

Jangan ditanya bagaimana perasaan saya waktu itu, tentu saja ingin nangis karena kebodohan sendiri! Well, akhirnya saya bolak balik menyeberang jembatan dan sampai di kantor BPWS dengan sangat-sangat lelah.

Untungnya, sampai di BPWS saya disuguhi sarapan khas Pulau Madura, yaitu nasi serpang. Jangan tanya mana fotonya, karena saya tak sempat mikir buat foto. Saat itu, saya benar-benar lelah motoran, tidak memikirkan hal yang lain – xoxo.

Salah satu hal yang menyenangkan ketika mengikuti acara ini adalah saya berkesempatan berkenalan dengan blogger nusantara. Banyak blogger yang datang dari luar Jawa Timur, bahkan luar Jawa pun ada. Keren, kan? Saya bangga dong, jadi salah satu bagian peserta.

Beberapa panitia #MenduniakanMadura yang tentunya dari anak-anak Plat-M (komunitas Blogger Madura dan merekalah yang menjadi tuan rumah acara ini) sedang menjemput beberapa teman blogger yang baru sampai di Madura. Setelah menunggu, akhirnya acara dimulai dengan beberapa perwakilan dari blogger dengan orang dari BPWS.

Jembatan Suramadu


Perjalanan menuju Pulau Madura dimulai sekitar pukul 12 siang, hari Selasa, 22 November 2016. Kami melewati jembatan Suramadu yang sebelumnya kami sudah diajak ke sisi jembatan bagian Surabaya untuk melihat selat Madura secara langsung.

Jembatan Surabaya-Madura atau yang lebih dikenal dengan jembatan Suramadu menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Seingat saya, jembatan ini selesai dibangun dan beroperasi pada tahun 2009 (saya ingat betul karena waktu itu, saya mulai ke Surabaya untuk kuliah) dan jembatan ini dibangun pada tahun 2003. Sebagai informasi, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia dengan panjang 5.438 m. Nah, sebelumnya saya cerita kalau nyasar dan harus menyebrangi jembatan, kan? Tinggal menghitung berapa jarak yang harus saya tempuh bolak balik.

Awalnya, sebelum adanya Jembatan Suramadu, akses untuk mencapai Madura adalah dengan adanya kapal feri. Kini, dibangunnya Jembatan Suramadu bertujuan untuk meningkatkan perekonomian Pulau Madura sehingga akan mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk di Madura dan akan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kawasan untuk menyeimbangkan antara Madura dan Jawa Timur.

Dengan adanya Jembatan Suramadu ini, kita jadi lebih mudah mengakses Pulau Madura.

Kawasan Kaki Jembatan Sisi Madura


Setelah menyeberang melewati Jembatan Suramadu yang memiliki sisi untuk pengendara bermotor dan mobil sendiri. Kami sampai di kaki jembatan sisi Madura. Di sana, teman-teman akan disuguhi pemandangan tempat oleh-oleh khas Madura di sisi kanan-kiri jalan. Nah, di dekat area ini, tepatnya sebelah kiri jalan akan dibangun rest area oleh BPWS. Nantinya, para penjual di sisi jalan kanan-kiri tersebut akan dipindahkan ke rest area ini, Kawan. Jadinya akan lebih tertib dan mudah dijangkau. Bukan sekadar tempat oleh-oleh saja, tapi juga akan ada beberapa hal yang memang dibutuhkan untuk rest area. Pembangunan rest area masih dalam tahap pembangunan. Masih berupa bata-bata dan tanah yang habis caruk.



Kawasan Khusus Madura


Usai melihat tempat yang nantinya akan menjadi rest area, kami menuju ke Desa Tolbuk, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, Madura. Di tempat ini nantinya akan dibangun Pelabuhan Internasional di Madura. Kawasannya luas sama halnya di kawasan sisi Madura tadi. Nantinya, KKM akan ada kegiatan industri, pergudangan, perdangan dan jasa, dan permukiman. Kawasan khusus Madura ini akan ramai nantinya dengan adanya pengembangan yang dilakukan oleh BPWS. Selain dalam pembangunan pada rest area, pelabuhan, dan wisata di Madura. BPWS juga berperan penting dalam pembangunan PJU atau Peningkatan/Pemeliharaan Jalan Penerangan Umum.



Usai dari Desa Tolbuk, kami melanjutkan perjalanan ke hutan kera Nepa yang kira-kira ditempuh dalam kurun waktu 1 jam dari kecamatan Klampis. Hal ini tidak saya sia-siakan, maka saya tidur dong. Sebagai informasi, jalanan yang kami lalui di Bangkalan agak bergelombang. Sesuai informasi yang saya dapatkan, ini terjadi karena memang tekstur tanahnya. Jadi, meskipun sudah berkali-kali diperbaiki, akan tetap bergelombang pula.

Hutan Kera Nepa di Desa Batioh


Setelah hampir satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di kawasan hutan Kera Nepa. Kawasan ini berupa perkampuangan biasa, sekaligus lokasi homestay yang akan kami tinggali bersama. Karena lokasi masuk ke dalam dusun, maka bus yang kami tumpangi tidak bisa masuk. Maka, kami diharuskan turun, membawa koper dan tas, berjalan kaki ke homestay.



Homestay yang kami tinggali merupakan rumah warga Desa Batioh, rumah yang biasa yang terbuat dari batu bata dan semen ya. Jangan membayangkan rumah dari bambu! Usai meletakkan barang bawaan kami di homestay, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Nepa, sekaligus ke Hutan Kera. Tentu saja jalan kaki, karena jarak antara homestay dan Pantai Nepa dekat sekali.



Jalan yang saya lewati berupa bebatuan kecil yang saru dengan pasir pantai. Beneran loh, banyak sekali pasir pantai di sekitaran homestay. Maklum, Pantai Nepa memang dekat. Saya suka di Desa Batioh ini, karena mirip sekali desa saya waktu saya kecil dulu. Yang belum banyak rumah gedong dan lagi banyak pagar-pagar yang membatasi perkarangan rumah. Asri banget. Cocok sekali untuk dijadikan tempat liburan keluarga.



Pasir di Pantai Nepa lembut, tidak banyak batu karang yang bisa menyakiti kaki. Hanya saja, pantainya kurang terawat. Banyak sampah yang terbawa dari air laut yang berserakan. Di sini, saya juga melihat anak-anak pesisir pantai yang bermain sepak bola. Tepat di depan pintu masuk Hutan Kera Nepa.

Hutan Kera Nepa, merupakan hutan yang dihuni oleh ribuan kera. Ketika baru menginjakkan kaki di luar pintu masuk saja, saya sudah mendapati banyak kera di sana. Banyak sekali. Asli. Saya tidak bisa memotret terlalu dekat, karena takut dihampiri kera. Ya, meskipun tak ada kejadian yang menakutkan dengan kera-kera tersebut, tetap saja saya takut.

Ketika saya berkunjung, ada beberapa pengunjung dari warga Madura sendiri. Mereka membawa makanan yang diberikan untuk para kera. Kera-kera tersebut pun menghampiri, mengambil makanan yang diberikan.

Selanjutnya, kami menyusuri hutan kera lebih lanjut. Bila tadi kami masih berada di pintu masuk, kini kami memasuki hutan kera yang sedikit gelap karena pepohonan yang amat rindang.



Sinar matahari memasukki hutan kera di sela-sela dedaunan. Menyinari jalanan kami yang sedikit becek. Menurut informasi, sebelumnya terjadi hujan angin disana. Terbukti dengan adanya bangunan yang rusak akibat tertimpa pohon tumbang. Ada pula tempat duduk yang sering saya lihat di halte roboh. Tujuan akhir kami di hutan kera ini adalah di – yang dipercaya – makam Raden Segoro. Makam tersebut berupa pohon besar yang berada di tengah-tengah hutan. Makam tersebut dipercaya masyarakat sekitar untuk ritual tertentu.



Menjelang magrib, kami kembali ke homestay. Tentunya, sebelum itu kami menikmati waktu sedikit senja di Pantai Nepa dengan berselfi ria dan guyonan para blogger. Sesampainya di homestay, kami disuguhi hidangan khas warga desa Batioh, untuk makan malam.

Perjalanan #MendunaiakanMadura tidak berakhir di sini, Kawan. Masih ada tiga hari menyenangkan lainnya yang akan saya lalui, bersama Blogger Nusantara. Besok, kami akan menyeberang ke Pulau Giliyang, yang merupakan pulau yang memiliki kadar oksigen tertinggi kedua di dunia.

xoxo,
Wulan K.


22 comments:

  1. Keren tulisan nya...jadi makin kangen ama kalian semua... sampai ktm lagi yaaa Wulan....

    ReplyDelete
  2. "saya menyeberang ke Madura sebelum waktunya"
    hahaha.. ketahuan kalau nyasar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. nyasarnya mah sembari cari jodoh,,,, #SaveSayuti


      Delete
  3. Keren ceritanya, ditunggu cerita selanjutnya tentang #MenduniakanMadura

    ReplyDelete
  4. Seruuuu...bisa kenal dengan Wulan di sini. Perjalanan berhari2 yg menyenangkan banget ya Wulan, tempatnya keren2.

    ReplyDelete
  5. Wulan ini peserta wanita yang pendiam. Mungkin hatus diglitik dulu.

    Wah oengalaman yg mengasikan nyeberang Madura duluk. Senang sekali kenal dengan para Bloher peserta #MenduniakanMadura.

    Ditunggu cerita lanjutnya ah...

    ReplyDelete
  6. aku yakin kawasan pariwisata nepa ini khususnya yang kita kunjungi kemarin (pantai nepa, hutan kera, dan air terjun toroan), ke depannya bakal jadi destinasi andalan yang ramai. ya semoga dengan kedatangan kita kemarin bisa jadi meningkatkan wisatawan dan juga kesadaran masyarakat sekitar soal pentingnya merawat alam. :)

    ReplyDelete
  7. Wah keren tuh, bisa nyampek Madura duluan Mbak. Senang juga bisa kenal dengan Mbak Wulan.

    ReplyDelete
  8. Eaaa...ternyata pakai acara kesasar to. Pada akhirnya sampai juga ya

    ReplyDelete
  9. Heroik Wulan... :D Ayo kapan-kapan ke Sumenep...eksplore the Soul of Madura ..

    ReplyDelete
  10. hmmm, hanya bisa mengatakan sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala umat. Lanjutkan posting! haha

    ReplyDelete
  11. Ah, Wulan, makasih lho ada fotoku di postingan ini :D
    Pas ke Hutan Kera Nepa aku ketinggalan, ternyata dalamnya bagus ya. Besok ajak teman-teman Plat-M ulang kesini, Ah :P

    ReplyDelete
  12. Yang bikin aku terharu.. Kisah nyasarnya.. Aku bisa bayangin ekspresinya mbak Wulan setelah nyampek BPWS.. Hehehe... Terlihat nano2 ekapresinya.. Semangat mbak wulan.. Sampai ketemu d trip selanjutnya

    ReplyDelete
  13. hutan keranya masih asri dan banyak kera :D

    ReplyDelete
  14. Tulisan yang bagus Mbak Wulan. Fotonya juga bagus-bagus. Tapi terlalu kecil :(
    Btw, Salam kenal ya.

    ReplyDelete
  15. Aku pingin pepotoan deket Suramadu yang sisi Surabaya itu ngga kesampaian euy :(.

    ReplyDelete
  16. Tulisan yang keren, tapi kenapa fotonya kecil,. . . .

    ReplyDelete
  17. Ngomong2 Jembatan Suramadu, jd pengen balik lagi ke sana, trus foto2 lagi, secara kemaren pas ke sana berkabut ya. Foto punyaku, tiang tengahnya ga keliatan haha.

    ReplyDelete
  18. saya belum baca, tapi mau komen.. wkwk

    ReplyDelete
  19. Suka banget photo yang lagi seret koper :D momentnya pas

    ReplyDelete
  20. Mbak Wulan emang TOP! Seorang diri nyebrang Suramadu naik motor lagi xD

    ReplyDelete
  21. Wah, lengkap! Untung aja ada fotoku walaupun dari belakang. Hahaha. Semoga bisa begini rame2 lagi di lain kesempatan. kalian keren!!

    ReplyDelete