Bitter Sweet: Jalan Legian Bali - Indonesia atau Luar Negeri?

Sunday, September 4, 2016

Jalan Legian Bali - Indonesia atau Luar Negeri?



Jalan Legian Bali - Indonesia atau Luar Negeri? Udara malam mulai menggigit, membuat saya merapatkan jaket parka yang tak seberapa tebal itu. Meskipun badan lelah, perut masih terasa mual, dan saya sudah siap-siap jika badan semakin memburuk. Saya pun tetap mengiyakan ajakan Mbak Yuni untuk jalan-jalan di sekitar hotel, tepatnya di jalan Legian.

Tujuan kami malam itu adalah pergi melihat monumen Bom Bali.

Dari arah Siesta Hotel, kami mengambil jalan ke arah kanan, kemudian menyeberang jalan dan melewati jalan sepi. Sampai akhirnya kami menemukan jalan raya yang terbilang cukup ramai pula. Kami berjalan melewati trotoar lurus sampai akhirnya sampai di jalan Legian. Lalu, kami mengambil arah kiri. Di sana, saya melihat banyak sekali pertokoan dengan instalansi lampu-lampu jalan, papan-papan menyala, penjual-penjual, jalan yang dipenuhi oleh mobil dan motor, kafe, bar, dan bule.


Tak hanya bule. Di sana saya juga banyak menjumpai anjing-anjing tak bertuan. Bagi saya yang muslim, tentunya sangat menghindarinya. Bukan sekadar karena apa, tapi karena saya takut juga. Xoxo.

Lagi-lagi, saya merapatkan jaket. Bukan karena takut akan dijahili atau apa, tapi udara semakin dingin. Melihat itu semua, segala rasa sakit akibat mual dan muntah tadi siang, bagi saya tak seberapa. Sepanjang jalan itu membuat saya takjub. Saya hampir tak mempercayai sedang berada di Indonesia kalau saja tidak melihat orang-orang lokal yang berjualan di sisi-sisi jalan.



Serius, ini Indonesia?

Bisa dibilang, sepanjang jalanan yang menghubungkan Kuta dan Seminyak itu hanya berisi orang-orang luar negeri. Orang-orang lokal hanya memenuhi kios-kios yang mereka jaga. Saya, Mbak Yuni, Mbak Tatit, dan Mbak Vanda, tentu saja sebagai turis lokal.

Bangunan-bangunan berupa kafe, bar, kios-kios, pusat perbelanjaan benar-benar seperti yang sering saya bayangkan selama ini ketika menulis sebuah cerita. Seakan-akan saya berada di luar negeri, tempat yang sering saya lihat dalam televisi.

Ah, saya mulai meracau.

Tentunya, kesempatan langkah tersebut tak saya lewatkan begitu saja. Besok, saya harus kembali ke Jawa. Saya harus pulang ke Mojokerto. Maka, saya menaikkan Etro yang sedari tadi saya kalungkan dan mengabadikan setiap momen yang indah di sana. Bangunan-bangunan, yang mungkin tak akan saya temui lagi.


Sayangnya, ketika saya membidik beberapa bangunan dengan lampu-lampu di malam itu. Hasil yang saya lihat di layar Etro tak bagus. Cahaya terlalu dominan. Kemudian, saya melepas filter uv pada Etro dan hasil menjadi cukup bagus. Oh, ternyata memakai filter uv di malam hari tak bagus. Ah, maaf saya masih amatiran.

Sesekali, saya dan Mbak Yuni berhenti untuk memotret. Sedangkan Mbak Tatit dan Mbak Vanda terus berjalan di depan. Lalu, kami berjalan lagi, mengangkat kamera, dan berhenti. Begitu terus selama perjalanan.

Selama perjalanan itu, saya banyak menjumpai bule-bule yang membawa bir, duduk-duduk di dalam kafe sambil mengobrol, bahkan ada yang bersendagurau dengan membawa minuman keras sampai di trotoar. Saya sampai-sampai harus berjalan menghindar.



Di jalan raya sendiri sangat padat merayap meskipun itu jalan hanya satu arah. Beberapa taksi ketika menerima penumpang pun berhenti di tengah jalan dan menyebabkan arus semakin macet saja.

Setelah berjalan selama lima belas sampai dua puluh menit, akhirnya kami sampai di monumen bom Bali. Awalnya, saya tak tahu kalau kita sudah sampai di tujuan. Padahal, saya sudah foto-foto. Setelah lama foto-foto, saya baru bertanya pada Mbak Tatit,”Mbak, monumen Bom Bali di mana?”


Mbak Tatit menjawab, “Ya ini.”Sontak saya tertawa. Astaga, sepertinya saya memang sudah terlalu capai.



Tak hanya kami. Di sana juga banyak orang yang berfoto di depan monumen Bom Bali. Saya sendiri lebih memilih memotret keadaan sekitar daripada selfi. Entah kenapa.

Setelah puas dengan perjalanan tersebut, kami memutuskan kembali ke hotel. Telapak kaki saya rasanya sudah mati rasa. Badan benar-benar lelah. Tapi saya sama sekali tak menyesal ikut keluar malam-malam begini.



Perjalanan pulang tak jauh berbeda, kami juga tetap tak melepaskan kesempatan untuk mengabadikan momen. Bedanya, kali ini kami memilih jalan lurus sampai di sebuah kedai pizza kami belok ke arah kanan. Ternyata, rute tersebut lebih menghemat waktu.

Sampai di hotel, saya langsung membersihkan diri, shalat dan tidur.

Jangan salah. Meskipun besok saya harus kembali ke Jawa, kami masih menyempatkan diri untuk mengunjungi Pantai Kuta.


Jalan kaki, tentunya.

xoxo,
Wulan K.

No comments:

Post a Comment